Balutan Musik Batak Garapan Viky Sianipar dalam Pentas Preman Parlente

078215100_1520060019-pp-14

Kali ini gelaran Indonesia Kita bertajuk ‘Preman Parlente’ tak salah memilih penata musiknya untuk mengiringi pertunjukan tiga jam yang digelar di Balai Graha Bakti Budaya, Taman Ismail Marzuki, Jakarta dari Jumat hingga Sabtu (2-3 Maret 2018). Viky Sianipar merupakan sosok yang tepat untuk itu.

Kiprahnya di dunia musik etnik, khususnya Batak tak bikin sangsi. Debut albumnya “Toba Dream” yang dianggap sebagai Album World Music terlaris di Indonesia menjadi fenomena tersendiri. Album yang mendapat penghargaan Akademi Musik Indonesia (AMI) sebagai The Best World Music Artist dengan ciri musik etnik new age mampu masuk dalam tangga lagu populer di radio-radio lokal selama berminggu-minggu. Sejak itu Viky dijuluki seniman World Music Indonesia muda terlaris dan menempatkan dirinya sebagai ikon musisi World Music Indonesia.

Gelaran Preman Parlente ini bukan kebetulan menghadirkan budaya Batak di dalamnya dan Viky sebagai pengampu musiknya. Sang Sutradara Agus Noor menyebutkan bahwa sejak awal ide menggelar panggung Indonesia Kita memang didorong keinginan agar terbentuk lingkungan kreatif yang melibatkan banyak pekerja seni, lintas disiplin. Agus membayangkan hal itu sebagai sebuah organisme kreatif yang akhirnya memungkinkan tumbuhnya ekosistem kesenian yang baik.

Kali ini gelaran Indonesia Kita bertajuk ‘Preman Parlente’ tak salah memilih penata musiknya untuk mengiringi pertunjukan tiga jam yang digelar di Balai Graha Bakti Budaya, Taman Ismail Marzuki, Jakarta dari Jumat hingga Sabtu (2-3 Maret 2018). Viky Sianipar merupakan sosok yang tepat untuk itu.

Kiprahnya di dunia musik etnik, khususnya Batak tak bikin sangsi. Debut albumnya “Toba Dream” yang dianggap sebagai Album World Music terlaris di Indonesia menjadi fenomena tersendiri. Album yang mendapat penghargaan Akademi Musik Indonesia (AMI) sebagai The Best World Music Artist dengan ciri musik etnik new age mampu masuk dalam tangga lagu populer di radio-radio lokal selama berminggu-minggu. Sejak itu Viky dijuluki seniman World Music Indonesia muda terlaris dan menempatkan dirinya sebagai ikon musisi World Music Indonesia.

Gelaran Preman Parlente ini bukan kebetulan menghadirkan budaya Batak di dalamnya dan Viky sebagai pengampu musiknya. Sang Sutradara Agus Noor menyebutkan bahwa sejak awal ide menggelar panggung Indonesia Kita memang didorong keinginan agar terbentuk lingkungan kreatif yang melibatkan banyak pekerja seni, lintas disiplin. Agus membayangkan hal itu sebagai sebuah organisme kreatif yang akhirnya memungkinkan tumbuhnya ekosistem kesenian yang baik.