Ketika Alunan Musik Batak Berkelana Bersama Opung Marsius

001146900_1570076868-IMG_20191003_105113

Orang Batak patut bangga punya Marsius Sitohang (66). Dia merupakan seorang seniman tradisional cum dosen ilmu budaya Batak. Dengan bekal kemahiran meniup seruling tradisional Batak atau sulim, Marsius telah mengunjungi beberapa negara di benua Asia, Eropa, dan Amerika di sela-sela tugasnya menjadi staf pengajar di Universitas Sumatera Utara (USU), Medan.

Perjalanan hidup kakek kelahiran Palipi, Kabupaten Samosir ini telah membawanya melanglang buana karena keahliannya memainkan instrumen musik Batak Toba. Begitu pula dalam beberapa kesempatan ia dipercaya menggarap musik untuk pertunjukan Opera Batak.

Pada Rabu (2/10/2019) lalu, puluhan muda-mudi di Bandung cukup beruntung karena dapat berbagi ide dan bertukar ilmu seni tradisi bersama Opung Marsius.

Kegiatan yang dilaksanakan pada sore hari di Lakipadada Spot, dimanfaatkan sebagai tempat untuk berdialog. Pada kesempatan ini, turut hadir kelompok musik anak muda Batak, D’Bamboo.

Stacia Sitohang, penggagas acara tukar pengalaman bersama seniman Batak Marsius Sitohang menggiring perbincangan santai. Marsius pun menanggapi dengan gembira antusias muda-mudi yang merantau untuk mendengarkan musik Batak.

Marsius membagi beberapa cerita mengenai perkenalannya dengan musik. Ketika masih SD, ia belajar meniup seruling sambil menggembala kerbau. Pria yang hanya tamat kelas 2 ini kemudian mencoba masuk dalam grup Opera Batak.

“Dulu, waktu proses belajarnya tidak pakai metode seperti sekarang ini. Saya dengarkan lalu dicoba terus sampai akhirnya bisa masuk opera,” katanya.

Marsius memutuskan keluar dari opera sekitar 1981. Ia tak sanggup melanjutkan kariernya bermusik karena kerap meninggalkan keluarga. Pada 1985 dia diminta untuk mengajar di USU. Selain itu, dia juga mengajar seni tradisi untuk difabel di Medan.

“Saya sekarang ini pengajar di USU jurusan Ilmu Budaya serta mengajar siswa tunanetra di salah satu SD di Medan. Saat berhenti dari opera itu, saya sempat jadi tukang becak. Saya mengajar bukan karena tamatan kuliah, tapi karena pengalaman bermusik hingga jadi dosen tetap di situ,” ucapnya.

Marsius, meski dia tidak bisa membaca dan menulis, kini mengajar musik tradisional Batak Toba, di jurusan Etnomusikologi, USU. Di kampus negeri itu, ia mengajari mahasiswanya bermain alat musik tradisional Batak seperti Hasapi, Sulim, Serunai, dan banyak lagi.

Dia mengatakan, bahwa sangat penting bagi generasi muda Batak untuk mempertahankan keseniannya karena merupakan identitas mereka sebagai masyarakat Batak.

“Cita-citaku pada waktu mengajar itu bagaimanalah caranya agar kebudayaan berkembang. Kalau dinilai dari gaji saya mengajar, itu tidak sebanding. Namun pun begitu tujuan saya mengajar adalah agar seni tradisional ini bisa dipertahankan,” ujar Marsius.

Dia menuturkan, sudah banyak orang mancanegara mulai berbagai belahan benua yang kini mahir memainkan alat musik Batak. Mereka sangat cepat mempelajari.

“Jadi, anak muda Batak jangan sampai kita belajar dari luar negeri. Kalau bisa supaya belajarlah pada budaya dan seni kita sendiri. Saya juga berharap orang tua mendukung kegiatan anaknya mempelajari budaya,” harap Marsius.

Orang Batak patut bangga punya Marsius Sitohang (66). Dia merupakan seorang seniman tradisional cum dosen ilmu budaya Batak. Dengan bekal kemahiran meniup seruling tradisional Batak atau sulim, Marsius telah mengunjungi beberapa negara di benua Asia, Eropa, dan Amerika di sela-sela tugasnya menjadi staf pengajar di Universitas Sumatera Utara (USU), Medan.

Perjalanan hidup kakek kelahiran Palipi, Kabupaten Samosir ini telah membawanya melanglang buana karena keahliannya memainkan instrumen musik Batak Toba. Begitu pula dalam beberapa kesempatan ia dipercaya menggarap musik untuk pertunjukan Opera Batak.

Pada Rabu (2/10/2019) lalu, puluhan muda-mudi di Bandung cukup beruntung karena dapat berbagi ide dan bertukar ilmu seni tradisi bersama Opung Marsius.

Kegiatan yang dilaksanakan pada sore hari di Lakipadada Spot, dimanfaatkan sebagai tempat untuk berdialog. Pada kesempatan ini, turut hadir kelompok musik anak muda Batak, D’Bamboo.

Stacia Sitohang, penggagas acara tukar pengalaman bersama seniman Batak Marsius Sitohang menggiring perbincangan santai. Marsius pun menanggapi dengan gembira antusias muda-mudi yang merantau untuk mendengarkan musik Batak.

Marsius membagi beberapa cerita mengenai perkenalannya dengan musik. Ketika masih SD, ia belajar meniup seruling sambil menggembala kerbau. Pria yang hanya tamat kelas 2 ini kemudian mencoba masuk dalam grup Opera Batak.

“Dulu, waktu proses belajarnya tidak pakai metode seperti sekarang ini. Saya dengarkan lalu dicoba terus sampai akhirnya bisa masuk opera,” katanya.

Marsius memutuskan keluar dari opera sekitar 1981. Ia tak sanggup melanjutkan kariernya bermusik karena kerap meninggalkan keluarga. Pada 1985 dia diminta untuk mengajar di USU. Selain itu, dia juga mengajar seni tradisi untuk difabel di Medan.

“Saya sekarang ini pengajar di USU jurusan Ilmu Budaya serta mengajar siswa tunanetra di salah satu SD di Medan. Saat berhenti dari opera itu, saya sempat jadi tukang becak. Saya mengajar bukan karena tamatan kuliah, tapi karena pengalaman bermusik hingga jadi dosen tetap di situ,” ucapnya.

Marsius, meski dia tidak bisa membaca dan menulis, kini mengajar musik tradisional Batak Toba, di jurusan Etnomusikologi, USU. Di kampus negeri itu, ia mengajari mahasiswanya bermain alat musik tradisional Batak seperti Hasapi, Sulim, Serunai, dan banyak lagi.

Dia mengatakan, bahwa sangat penting bagi generasi muda Batak untuk mempertahankan keseniannya karena merupakan identitas mereka sebagai masyarakat Batak.

“Cita-citaku pada waktu mengajar itu bagaimanalah caranya agar kebudayaan berkembang. Kalau dinilai dari gaji saya mengajar, itu tidak sebanding. Namun pun begitu tujuan saya mengajar adalah agar seni tradisional ini bisa dipertahankan,” ujar Marsius.

Dia menuturkan, sudah banyak orang mancanegara mulai berbagai belahan benua yang kini mahir memainkan alat musik Batak. Mereka sangat cepat mempelajari.

“Jadi, anak muda Batak jangan sampai kita belajar dari luar negeri. Kalau bisa supaya belajarlah pada budaya dan seni kita sendiri. Saya juga berharap orang tua mendukung kegiatan anaknya mempelajari budaya,” harap Marsius.