Musik Batak dengan Balutan Orkestra di Dago Tea House Bandung

039896300_1570302385-IMG_20191006_014112

Semakin hari tradisi Batak semakin memudar di kalangan pemudanya. Namun, upaya melestarikan kembali budaya sendiri di era modern seperti sekarang ini masih tetap menyala. Seperti yang dihadirkan dalam konser musik Batak bertajuk Emas Sangge Sangge.

Konser musik yang menampilkan kolaborasi antara musik Batak dengan orkestra ini disajikan di gedung teater tertutup Dago Tea House, Kota Bandung, Jumat (4/10/2019). Pertunjukan yang disutradarai Stacia Sitohang ini bertujuan agar para Naposobulung atau pemuda asal Tanah Batak mengenal kembali budayanya sendiri melalui musik.

Horas,” ucap pengiring acara membuka pertunjukan. Sang penutur kemudian mengucap falsafah Dalihan Na Tolu, yang secara turun temurun dipelihara orang Batak sampai hari ini. Yaitu somba marhula-hula (hormat kepada pihak keluarga dari istri, manat mardongan tubu (hati-hati kepada pihak semarga), dan elek marboru (mengayomi atau pandai membujuk anak perempuan satu marga).

Kemudian, musik dibuka oleh Svara Martua Orchestra. Musik perlahan mengalun indah. Irama menghentak, dipadu dengan komposisi suara seruling batak yang dimainkan Marsius Sitohang, hasapi dan gondang yang mewakili alat musik tradisi Batak Toba.

Ratusan penonton dalam aula itu terbius. Tiupan seruling Marsius menghipnotis diri, seakan membawa kenangan di kampung halaman.

Aksi penyanyi solo dan paduan suara, membuat penonton ikut bernyanyi lagu-lagu Batak seperti Jamila, Dekke Jahir, dan Sai Anju Ma Ahu. Permainan gondang UKSU ITB membawakan Hata Sopisik juga tak kalah atraktif.

Konser ini juga menampilkan tari khas Batak, tor-tor yang dibawakan sejumlah perempuan serta gabungan antara laki-laki dan perempuan. Selama acara berlangsung, dihadirkan pula pertunjukan teatrikal. Sebuah kisah yang menggambarkan perjalanan anak rantau yang tidak lupa dengan akar budayanya sendiri.

Sebelum ditutup dengan lagu O Tano Batak, pertunjukan yang berlangsung selama dua jam ini juga menampilkan D’Bamboo, sebuah kreasi generasi muda Batak dalam bermusik. Mereka tampil membawakan sejumlah lagu termasuk tampil bersama legenda hidup seruling Batak, Marsius Sitohang.

Semakin hari tradisi Batak semakin memudar di kalangan pemudanya. Namun, upaya melestarikan kembali budaya sendiri di era modern seperti sekarang ini masih tetap menyala. Seperti yang dihadirkan dalam konser musik Batak bertajuk Emas Sangge Sangge.

Konser musik yang menampilkan kolaborasi antara musik Batak dengan orkestra ini disajikan di gedung teater tertutup Dago Tea House, Kota Bandung, Jumat (4/10/2019). Pertunjukan yang disutradarai Stacia Sitohang ini bertujuan agar para Naposobulung atau pemuda asal Tanah Batak mengenal kembali budayanya sendiri melalui musik.

Horas,” ucap pengiring acara membuka pertunjukan. Sang penutur kemudian mengucap falsafah Dalihan Na Tolu, yang secara turun temurun dipelihara orang Batak sampai hari ini. Yaitu somba marhula-hula (hormat kepada pihak keluarga dari istri, manat mardongan tubu (hati-hati kepada pihak semarga), dan elek marboru (mengayomi atau pandai membujuk anak perempuan satu marga).

Kemudian, musik dibuka oleh Svara Martua Orchestra. Musik perlahan mengalun indah. Irama menghentak, dipadu dengan komposisi suara seruling batak yang dimainkan Marsius Sitohang, hasapi dan gondang yang mewakili alat musik tradisi Batak Toba.

Ratusan penonton dalam aula itu terbius. Tiupan seruling Marsius menghipnotis diri, seakan membawa kenangan di kampung halaman.

Aksi penyanyi solo dan paduan suara, membuat penonton ikut bernyanyi lagu-lagu Batak seperti Jamila, Dekke Jahir, dan Sai Anju Ma Ahu. Permainan gondang UKSU ITB membawakan Hata Sopisik juga tak kalah atraktif.

Konser ini juga menampilkan tari khas Batak, tor-tor yang dibawakan sejumlah perempuan serta gabungan antara laki-laki dan perempuan. Selama acara berlangsung, dihadirkan pula pertunjukan teatrikal. Sebuah kisah yang menggambarkan perjalanan anak rantau yang tidak lupa dengan akar budayanya sendiri.

Sebelum ditutup dengan lagu O Tano Batak, pertunjukan yang berlangsung selama dua jam ini juga menampilkan D’Bamboo, sebuah kreasi generasi muda Batak dalam bermusik. Mereka tampil membawakan sejumlah lagu termasuk tampil bersama legenda hidup seruling Batak, Marsius Sitohang.